fbpx

Kanker Lambung (Perut) dan Kanker Kolorektal

Pelajari lebih banyak tentang kanker lambung (perut) dan kanker kolorektal, dimulai dari sisi pengertian, gejala, dan cara mendapatkan skrining kanker terkait.

Kanker lambung menjadi jenis kanker yang menyebabkan kematian tertinggi ketujuh untuk pria dan kesembilan untuk wanita di Singapura. Kanker lambung bahkan menjadi jenis kanker penyebab kematian tertinggi keenam di seluruh dunia juga berdasarkan data WHO 2020. Secara umum, kanker lambung lebih banyak mendampaki pria dan umumnya menjangkiti orang-orang pada kelompok lansia.

pengertian dan gejala kanker lambung
Kanker Lambung (Perut)

Table of Contents

Apa Itu Kanker Lambung (Perut)?

Kanker lambung adalah adenokarsinoma pada lambung. Kanker lambung atau kanker perut dimulai ketika sel-sel di bagian mana pun dari lambung tumbuh dan membelah secara tidak normal. Sel-sel ini dapat berkembang menjadi tumor. Tumor dapat berkembang di mana saja di dalam lambung, tetapi sebagian besar dimulai di jaringan kelenjar pada permukaan dalam lambung. 

Kanker dapat menyebar sepanjang dinding lambung atau dapat berkembang secara langsung melewati dinding dan menyebar ke dalam aliran darah atau sistem limfatik. Setelah melampaui lambung, kanker dapat menyebar ke organ lain.

Angka Kematian Kanker Lambung di Singapura

Kanker lambung memiliki tingkat kematian tertinggi keenam di antara kanker pada pria di Singapura. Menurut laporan Singapore Cancer Registry 2019, kanker lambung menyumbang 5,6% (869 kematian) dari kematian akibat kanker pada pria antara tahun 2015-2019. Pada wanita, kanker lambung menyumbang 5,1% (658 kematian) dari kematian akibat kanker, menjadikannya sebagai kanker dengan tingkat kematian tertinggi ketujuh. Rata-rata, kanker ini bertanggung jawab atas 300 kematian setiap tahun.

Apakah Kanker Lambung Dapat Diobati?

Jika kanker lambung terdeteksi pada tahap awal, kanker tersebut dapat diobati. Dalam banyak kasus, kanker lambung tidak menunjukkan gejala pada tahap awalnya, menyebabkan banyak pasien baru bisa terdiagnosis pada tahap lanjut atau tahap akhir. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining kanker secara rutin untuk deteksi dini kanker lambung. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk kanker lambung Tahap I lebih dari 50%.

Gejala Kanker Lambung

  • Rasa tidak nyaman atau nyeri kronis di perut atau abdomen.
  • Rasa tidak nyaman serupa dengan indigesti (Dispepsia).
  • Sensasi terbakar setelah makan (Heartburn).
  • Perasaan kembung setelah makan.
  • Perasaan kenyang lebih cepat meskipun hanya makan sedikit.
  • Hilangnya nafsu makan.
  • Penurunan berat badan tanpa penjelasan.
  • Kelelahan yang tidak dapat dijelaskan.

Siapa yang Sebaiknya Menjalani Skrining Kanker Lambung?

  • Berusia 40 tahun ke atas dengan riwayat keluarga mengidap kanker atau penyakit lambung.
  • Mengalami nyeri di bagian atas perut.
  • Heartburn atau asam lambung kronis.
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di area perut bagian atas.
  • Penurunan berat badan tanpa penjelasan.
  • Darah dalam tinja.
  • Anemia defisiensi besi.
  • Rasa sakit saat menelan.

Dapatkan Skrining Kanker Lambung Sekarang

Skrining kanker lambung (perut) penting untuk deteksi dini kanker lambung. Skrining dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan abnormal atau pertumbuhan kanker pada lapisan lambung sesegera mungkin, saat penyakit tersebut mungkin lebih mudah diobati.

[Ulasan Bersponsor]

GASTROClear™ oleh perusahaan biotek lokal Mirxes, adalah tes darah biomarker yang dikembangkan secara lokal di Singapura yang membuat skrining risiko kanker lambung menjadi mudah dan hemat biaya. Minim invasif dan tidak memakan banyak waktu, ini adalah tes penanda kanker yang mengukur tingkat 12 mikroRNA dalam darah yang terkait dengan kanker lambung. Pelajari lebih lanjut tentangnya dengan klik tombol di bawah ini.

Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal adalah jenis kanker pembunuh nomor satu di Singapura. Ini adalah kanker teratas untuk pria dengan rata-rata lebih dari 1.300 kasus yang didiagnosis setiap tahun antara tahun 2016 dan 2020. Sementara untuk wanita, ini adalah kanker kedua yang paling umum dengan rata-rata lebih dari 1.000 kasus baru setiap tahun. Risiko terkena kanker kolorektal meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Kanker Kolorektal

Apa Itu Kanker Kolorektal?

Kanker kolorektal atau kanker usus besar biasanya dimulai sebagai pertumbuhan jaringan nonkanker (polip) pada bagian dalam usus besar atau rektum, yang berubah menjadi kanker dari waktu ke waktu jika tidak terdeteksi. Kanker kolorektal biasanya dimulai di usus besar dalam bentuk gumpalan sel jinak, dan beberapa dari ini kemudian dapat menjadi kanker.

Angka Kematian Kanker Kolorektal di Singapura

Tingkat insiden kanker kolorektal adalah 16,9% untuk pria dan 13,1% untuk wanita dari tahun 2015-2019, menjadikannya salah satu dari tiga jenis kanker yang paling sering didiagnosis di Singapura. Tingkat kematian sebesar 14,5% pada pria dan 15,6% pada wanita juga menjadikannya sebagai salah satu penyebab utama kematian terkait kanker.

Apakah Kanker Kolorektal Dapat Diobati?

Dengan skrining rutin, kanker kolorektal adalah salah satu jenis kanker yang lebih dapat disembuhkan. Deteksi dini dan pengangkatan sel kanker kolorektal, yang terlokalisasi di usus besar, dapat secara signifikan menurunkan risiko pengembangan kanker lebih lanjut.

Selanjutnya, pengobatan kanker kolorektal paling berhasil pada tahap awalnya. Jika ditemukan pada tahap satu, tingkat kelangsungan hidup kanker kolorektal di Singapura untuk pria dan wanita masing-masing mendekati 84% dan 86%. Namun, jika kanker berkembang ke tahap empat, tingkat kelangsungan hidup turun menjadi 10% untuk pria dan 11% untuk wanita.

Tingkat kelangsungan hidup relatif standar umur lima tahun untuk kanker usus besar dan rektum pada pria dan wanita untuk tahun 2015-2019 adalah sekitar 61% masing-masing.

Gejala Kanker Kolorektal

Konsultasikan dengan dokter keluarga atau gastroenterolog jika Anda mengalami salah satu dari gejala-gejala ini.

  • Darah dalam tinja atau pendarahan dari rektum.
  • Perubahan kebiasaan buang air besar.
  • Rasa tidak nyaman atau nyeri di perut yang persisten.
  • Tidak bisa mengosongkan usus secara lengkap.
  • Penurunan berat badan tanpa penjelasan.

Siapa yang Sebaiknya Menjalani Skrining Kanker Kolorektal?

  • Berusia 50 tahun atau lebih.
  • Riwayat keluarga mengidap kanker kolorektal.
  • Riwayat sebelumnya polip atau penyakit kolorektal.
  • Perubahan kebiasaan buang air besar tanpa penjelasan.
  • Darah dalam tinja.
  • Penurunan berat badan tanpa penjelasan.
  • Nyeri perut atau kembung.
  • Diare kronis atau sembelit.
  • Anemia defisiensi besi.

Dapatkan Skrining Kanker Kolorektal

Skrining kanker kolorektal penting untuk deteksi dini dan pencegahan kanker kolorektal, yang mencakup kanker usus besar dan rektum. Metode skrining digunakan untuk mengidentifikasi pertumbuhan prakanker (polip) atau kanker pada tahap awalnya, seringkali ketika lebih mudah diobati atau disembuhkan.

Pelajari Lebih Lanjut tentang Kanker Lambung (Perut) dan Kanker Kolorektal

Bacaan Lebih Lengkap tentang Kanker Lambung (Perut)

Cek Gejala Kanker Lambung dari Stadium 1 hingga 4

Jangan abaikan nyeri pada perut, terutama jika berulang sejak lama, ada risiko kanker lambung. Ini gejala kanker lambung pada tiap.

Apa Saja Penyebab Kanker Lambung? Cegah dari Sekarang!

Penasaran faktor apa saja yang bisa menjadi penyebab kanker lambung? Cari tahu informasi selengkapnya di sini!

Kanker Lambung – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Ketahui apa itu kanker lambung, termasuk faktor penyebab dan gejala, serta pahami langkah-langkah pengobatannya juga.

Bacaan Lebih Lengkap tentang Kanker Kolorektal

Kanker Rektum – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Cari tahu pengertian kanker rektum, apa yang menjadi penyebab, gejala-gejala, dan langkah pengobatan yang bisa dilakukan.

Kolonoskopi : Pengertian, Persiapan, dan Prosedur

Apa itu kolonoskopi? Cari tahu apa tujuan, prosedur, hasil tes akhir, dan risiko komplikasi dari kolonoskopi selengkapnya.

Kanker Kolorektal – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Cari tahu apa itu kanker kolorektal, termasuk bagaimana penyebab, faktor risiko, gejala, dan langkah diagnosis untuk mendeteksi.