fbpx
Kanker Kolorektal Kanker Lambung & Usus Kanker Secara Umum Kondisi Medis

Kanker Kolorektal – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

kanker kolorektal

Apa itu kanker kolorektal?

Kanker kolorektal adalah neoplasma ganas yang terjadi di kolon, rektum, atau vermiform appendix. Neoplasma adalah pertumbuhan sel yang tidak terkontrol dan abnormal, yang bisa bersifat jinak (benign) atau ganas (malignant).

Dalam istilah seputar kanker yang lebih umum, kanker kolorektal adalah kanker yang berawal di usus besar (kolon) atau di bagian akhir dari usus besar (rektum). Kanker ini bisa bermula dari sel-sel yang melapisi bagian dalam dari kolon atau rektum dan bisa menyebar ke lapisan lain dari usus besar atau bahkan ke organ lain. 

Biasanya diawali dengan kemunculan polip yang bisa menjadi ganas seiring waktu jika tidak diobati atau diangkat. Ada beberapa faktor lain yang bisa memicu polip berubah menjadi kanker, antara lain:

  • Terdapat banyak polip pada satu area dengan ukuran lebih dari 1 cm.
  • Kehadiran displasia (sel-sel abnormal) dalam polip.
  • Ada anggota keluarga dekat yang pernah menderita kanker kolorektal atau polip.
  • Mengidap penyakit peradangan usus juga, seperti kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.
  • Menderita obesitas akibat pola makan tinggi lemak dan rendah serat, disertai kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Berusia di atas 50 tahun.

Berdasarkan data Globocan 2020, kanker kolorektal menempati urutan keempat sebagai kasus kanker tertinggi di Indonesia. Dari seluruh 396.914 kasus kejadian baru terkait penyakit kanker pada pria dan wanita, jumlah total pengidap kanker kolorektal mencapai 34.189 (8,6%).

Penyebab kanker kolorektal

Kanker usus besar terjadi ketika terdapat perubahan atau yang disebut mutasi pada DNA dalam sel-sel sehat di sekitar usus besar. DNA adalah molekul yang berfungsi memberikan instruksi tentang bagaimana sel harus bekerja. Pada kondisi normal, sel-sel tumbuh dan membelah diri secara teratur untuk membantu tubuh berfungsi dengan baik.

Namun, bila sampai terjadi mutasi DNA, sel-sel tersebut menjadi tidak normal dan mulai membelah diri tanpa terkendali, bahkan ketika tubuh tidak membutuhkan sel baru. 

Akumulasi atau penumpukan dari sel-sel ini bisa membentuk apa yang disebut sebagai tumor. Meski begitu, penting untuk diketahui bahwa tidak semua tumor bisa langsung dianggap berbahaya. Tumor bisa bersifat jinak (aman) atau ganas (kanker atau merusak).

Selanjutnya, sel-sel kanker ini bisa menjadi lebih agresif dan mulai merusak jaringan normal di sekitarnya. Bahkan, dalam beberapa kasus, sel-sel kanker ini bisa menyebar (metastasis) ke bagian tubuh lain, yang berarti kanker tersebut telah mencapai tahapan yang lebih serius.

Faktor risiko kanker kolorektal

Faktor risiko adalah kondisi yang menjadikan seseorang lebih berisiko terjangkit suatu penyakit. Berikut ini adalah faktor risiko kanker kolorektal yang bisa meningkatkan risiko seseorang terjangkit penyakit tersebut.

1. Faktor risiko yang tidak bisa diubah

  • Risiko kanker kolorektal meningkat setelah usia 50 tahun.
  • Orang yang memiliki anggota keluarga dekat dengan riwayat kanker kolorektal.
  • Mengidap kondisi genetik tertentu, seperti sindrom Lynch dan Familial Adenomatous Polyposis (FAP).
  • Orang dengan etnis atau ras Afrika-Amerika.
  • Penyakit inflamasi usus seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn.

2. Faktor risiko yang masih bisa ditangani

  • Kurangnya aktivitas fisik (misalnya olahraga), pola makan tinggi lemak dan rendah serat, mengalami obesitas, berkebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol, dan merokok.
  • Kemunculan polip, terutama jenis adenomatous.
  • Terpapar bahan kimia atau lingkungan yang mengandung karsinogen dalam jangka panjang.

3. Faktor risiko lainnya

  • Pria berisiko sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita.
  • Sering mengonsumsi daging merah olahan.

Gejala kanker kolorektal

Gejala kanker kolorektal terbagi menjadi dua, yaitu gejala umum dan gejala lanjutan. Gejala umum dikaitkan dengan ciri-ciri kanker kolorektal awal dan gejala lanjutan dikaitkan dengan kondisi yang sudah lebih parah.

Gejala umum

  • Perubahan Pola BAB yang meliputi diare, sembelit, atau perubahan konsistensi feses yang berlangsung lebih dari beberapa minggu.
  • Adanya darah pada feses yang berwarna merah terang atau hitam pekat.
  • Nyeri atau kram perut yang berlangsung lebih dari beberapa hari.
  • Sering merasa lelah atau lemah tanpa alasan yang jelas.
  • Penurunan berat badan berlebihan tanpa alasan yang jelas.
  • Mengalami anemia yang ditandai dengan kelelahan dan kulit yang pucat akibat defisiensi darah.
  • Sensasi bahwa usus tidak terasa kosong sepenuhnya walau sudah buang air besar.

Gejala lanjutan

  • Mengalami obstruksi usus, seperti merasa mual, muntah, dan perut kembung.
  • Mengidap jaundice (penyakit kuning) akibat penyebaran sel kanker ke organ hati.
  • Nafsu makan menurun dan kelemahan yang berkepanjangan.

Gejala kanker kolorektal bisa sangat bervariasi dan dalam beberapa kasus, seseorang mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun, terutama di tahap awal. Oleh karena itu, skrining rutin sangat penting, terutama untuk orang-orang yang memiliki faktor risiko. 

Skrining kanker kolorektal

Skrining kanker kolorektal adalah serangkaian tes yang dilakukan untuk mendeteksi adanya tanda-tanda awal atau potensi sebelum gejala muncul. Langkah ini sangat disarankan bagi seseorang yang memiliki lebih banyak faktor risiko.

Ada beberapa jenis tes yang bisa digunakan dalam skrining kanker kolorektal, di antaranya:

1. Tes feses

  • Tes Okultus Feses (FOBT): Mengidentifikasi adanya darah dalam feses yang mungkin tidak terlihat dengan mata biasa.
  • Tes Feses Imunokimia Fekal (FIT): Mirip dengan FOBT tapi lebih sensitif dan spesifik dalam mendeteksi darah dalam feses.

2. Tes endoskopi

  • Sigmoidoskopi: Sebuah prosedur di mana dokter menggunakan alat khusus untuk memeriksa bagian bawah usus besar dan rektum.
  • Kolonoskopi: Mirip dengan sigmoidoskopi, tetapi memeriksa seluruh usus besar dan rektum. Jika ditemukan polip, bisa langsung diangkat saat prosedur.

3. Tes pencitraan

  • CT Kolonografi: Dikenal sebagai virtual kolonoskopi karena menggunakan CT scan untuk mendapatkan gambaran 3D dari seluruh usus besar dan rektum.

4. Tes genetik dan molekuler

  • Cologuard: Tes ini menggabungkan FIT dengan deteksi DNA sel tumor dalam feses.

5. Tes darah

  • Tes darah biomarker: Meski jarang digunakan untuk skrining, beberapa tes darah sedang dalam penelitian untuk mendeteksi biomarker yang berhubungan dengan kanker kolorektal.

6. Prosedur lanjutan

Jika hasil dari tes skrining menyatakan positif atau menunjukkan adanya kelainan sel, biasanya akan diikuti dengan tes diagnostik tambahan, seperti kolonoskopi lengkap untuk konfirmasi dan pengambilan sampel jaringan (biopsi) jika diperlukan.

Konsultasikan pilihan tes skrining yang paling cocok dengan dokter. Dokter akan melihat beberapa faktor yang bisa memengaruhi pilihan tes, misalnya menyangkut usia, riwayat medis, dan riwayat keluarga.

Diagnosis kanker kolorektal

Diagnosis kanker kolorektal adalah pemeriksaan yang bertujuan mengidentifikasi dan memastikan keberadaan sel-sel kanker di area usus besar. Langkah ini dilakukan khusus pada seseorang yang menunjukkan gejala-gejala penyakit ini. Berikut adalah beberapa metode yang umumnya digunakan.

1. Pemeriksaan fisik dan riwayat medis

Sebagai langkah pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengambil riwayat medis lengkap untuk mengetahui gejala, faktor risiko, dan riwayat keluarga terkait kanker ini.

2. Tes laboratorium

  • Tes darah lengkap untuk mengecek tanda-tanda anemia yang bisa disebabkan oleh perdarahan internal.
  • Tes fungsi hati untuk menilai kesehatan hati, terutama jika ada kecurigaan kanker telah menyebar.

3. Tes pencitraan

  • CT Scan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail tentang area yang dicurigai.
  • MRI untuk memastikan kecurigaan jika kanker  telah menyebar ke struktur lain, misalnya hati atau tulang.
  • PET Scan untuk menilai penyebaran kanker.

4. Tes endoskopi

  • Kolonoskopi untuk pemeriksaan seluruh usus besar dan rektum. Jika ditemukan polip atau massa, dokter akan mengambil sampel untuk biopsi.
  • Sigmoidoskopi untuk memeriksa bagian bawah dari usus besar dan bisa digunakan sebagai alternatif kolonoskopi.

5. Biopsi

Jika ada massa atau polip yang dicurigai, sampel jaringan akan diambil untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan apakah sel-sel tersebut ganas atau tidak.

6. Penentuan stadium

Jika keberadaan kanker kolorektal telah terkonfirmasi, prosedur tambahan mungkin diperlukan untuk menentukan sejauh mana penyebaran kanker untuk melakukan penentuan stadium. Hasilnya akan menentukan pilihan pengobatan yang paling efektif sesuai kondisi pasien.

Secara keseluruhan, proses diagnosis bisa melibatkan satu atau lebih dari tes-tes di atas, tergantung pada kondisi spesifik masing-masing pasien.

Stadium kanker kolorektal

Stadium kanker kolorektal menggambarkan sejauh mana penyebaran kanker di area usus besar dan rektum, dan ini penting untuk menentukan pilihan pengobatan yang sesuai. 

Tingkatan stadium biasanya diidentifikasi menggunakan sistem TNM (Tumor, Node, Metastasis) atau kadang-kadang sistem angka Romawi (I, II, III, IV). Berikut adalah ringkasan dari tingkatan stadium kanker kolorektal dan ciri-cirinya.

Stadium 0 (Karsinoma In Situ)

Kanker ditemukan hanya di lapisan paling dalam dari usus besar atau rektum dan belum menyebar lebih jauh.

Stadium I

Kanker telah menyebar melalui lapisan dalam, tetapi belum mencapai otot usus besar atau rektum.

Tidak ada penyebaran ke kelenjar getah bening atau organ lain.

Stadium II

  • IIa: Kanker telah menyebar ke dinding usus tetapi belum mencapai kelenjar getah bening terdekat.
  • IIb: Kanker telah tumbuh melalui dinding usus dan mungkin telah mencapai struktur terdekat.
  • IIc: Kanker telah menyebar ke organ atau struktur lain tetapi belum mencapai kelenjar getah bening atau lokasi jauh.

Stadium III

Kanker telah menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening terdekat.

  • IIIa: Penyebaran minimal ke kelenjar getah bening tetapi terbatas di dinding usus.
  • IIIb: Lebih banyak kelenjar getah bening yang terlibat, tetapi kanker belum menyebar ke lokasi lain yang jauh.
  • IIIc: Penyebaran ke banyak kelenjar getah bening, tetapi tetap belum menyebar ke lokasi lain yang jauh.

Stadium IV

Kanker telah menyebar ke organ lain seperti hati, paru-paru, atau tulang.

  • IVa: Penyebaran ke satu organ atau area.
  • IVb: Penyebaran ke lebih dari satu organ atau area.

Perlu diingat bahwa ini adalah gambaran umum dan tingkatan stadium kanker setiap individu bisa berbeda. Penting untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk tes pencitraan dan biopsi, untuk menentukan stadium kanker kolorektal. Selalu konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang paling akurat dan relevan.

Pengobatan kanker kolorektal

Pengobatan kanker kolorektal bergantung pada beberapa faktor, termasuk stadium kanker, lokasi tumor, kesehatan umum pasien, dan lain-lain. Berikut ini beberapa metode pengobatan yang umumnya digunakan.

Operasi kanker kolorektal

Terdapat empat pilihan operasi kanker kolorektal yang umumnya direkomendasikan oleh dokter, antara lain:

  • Polipektomi : Pengangkatan polip selama kolonoskopi jika kanker masih pada stadium awal.
  • Reseksi usus besar : Mengangkat bagian usus besar yang terkena kanker.
  • Reseksi dan anastomosis : Mengangkat bagian usus yang terkena dan menghubungkan kembali dua ujung yang sehat.
  • Kolektomi : Pengangkatan seluruh usus besar, biasanya dilakukan jika ada penumpukan sel-sel kanker.

Kemoterapi

  • Kemoterapi adjuvant : Dilakukan setelah operasi untuk membunuh sel kanker yang mungkin masih ada.
  • Kemoterapi neoadjuvant : Dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor.
  • Kemoterapi untuk kanker stadium lanjut : Jika kanker telah menyebar, kemoterapi bisa digunakan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan peluang perpanjangan umur.

Radioterapi

  • Radioterapi eksternal : Menggunakan mesin luar tubuh untuk mengarahkan radiasi ke area kanker.
  • Brakiterapi : Memasukkan sumber radiasi ke dalam atau dekat area kanker.

Imunoterapi dan terapi target 

  • Imunoterapi : Menguatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker.
  • Terapi target : Penerapan terapi kanker kolorektal melalui terapi target akan menggunakan obat yang dirancang untuk melemahkan sel kanker tertentu.

Terapi pendukung

  • Manajemen gejala menggunakan obat-obatan, diet, atau teknik lain untuk mengurangi gejala atau efek samping pengobatan.
  • Psikoterapi untuk mendukung aspek emosional dan mental selama perawatan.

Semua metode pengobatan ini bisa digunakan secara tunggal atau dalam kombinasi, tergantung pada kebutuhan medis pasien. Sebagiannya lagi bisa disertai dengan konsumsi obat-obatan juga.

Perlu diingat bahwa obat-obatan untuk mendukung penanganan kanker kolorektal berisiko memberikan efek samping dan interaksi dengan obat lain atau kondisi medis yang mungkin sedang dialami. Selalu diskusikan dengan dokter untuk menentukan rencana pengobatan yang paling tepat.

Perawatan lanjutan kanker kolorektal

Seusai menjalani pengobatan aktif, perawatan lanjutan untuk pasien yang telah terdiagnosis dengan kanker kolorektal belum bisa dikatakan selesai. 

Masih ada tindak lanjut secara medis yang menjadi bagian esensial untuk memonitor kondisi kesehatan pasien. Tujuan mendasar dari langkah ini adalah untuk memastikan kanker tidak kambuh sekaligus mengendalikan efek samping dari pengobatan.

Risiko kambuhnya kanker dinilai tinggi, terutama dalam lima tahun pertama pasca pengobatan sehingga diperlukan pemeriksaan secara rutin setiap 3-6 bulan. Pemeriksaan ini bisa mencakup tindakan rehabilitasi kanker yang mencakup:

  • Terapi fisik.
  • Terapi okupasi.
  • Mengantisipasi rasa nyeri.

Jenis dan stadium kanker yang terdiagnosis sebelumnya, termasuk jenis pengobatan yang diterima pasien akan menjadi referensi bagi dokter dalam melakukan serangkaian tes pada tahap tindak lanjut ini. 

Tes ini penting dalam mengetahui sel-sel kanker yang mungkin belum terdeteksi dan bisa tumbuh kembali seiring waktu. 

Perawatan tindak lanjut akan dilakukan secara lebih spesifik bagi pasien yang tidak memiliki riwayat kanker kolorektal genetik. Sama halnya dengan perbedaan penanganan bagi pasien stadium II atau III akan berbeda dengan pasien stadium I yang mana risiko kambuhnya kanker relatif lebih rendah.

Komplikasi kanker kolorektal

Komplikasi kanker kolorektal bisa terjadi akibat keterlambatan penanganan medis atau efek samping dari pengobatan. Selain itu, komplikasi bisa diakibatkan oleh kondisi kesehatan pasien pada saat itu juga.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan komplikasi kanker kolorektal secara umum.

  1. Ukuran dan lokasi tumor
    Tumor yang besar atau tumbuh di lokasi yang sulit dijangkau bisa menyebabkan obstruksi usus atau perdarahan internal.
  2. Progresivitas kanker
    Seiring waktu, kanker yang tidak terdeteksi atau tidak diobati akan menyebar (metastasis) ke organ-organ lain, yang akan menyebabkan komplikasi lebih serius.
  3. Jenis pengobatan
    Terapi yang digunakan seperti kemoterapi atau radioterapi mempunyai efek samping sendiri yang bisa menyebabkan komplikasi. Misalnya, kemoterapi bisa menurunkan jumlah sel darah putih dan membuat pasien lebih rentan terhadap infeksi.
  4. Kondisi kesehatan umum
    Kondisi kesehatan umum pasien, termasuk adanya penyakit lain atau keadaan imunokompromais, juga bisa memengaruhi risiko komplikasi.
  5. Keterlambatan diagnosis
    Deteksi yang terlambat cenderung membuat kanker sudah berada pada stadium lanjut saat pertama kali didiagnosis sehingga mempersulit pengobatan dan meningkatkan risiko komplikasi.
  6. Respons yang berbeda pada tiap orang
    Setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap kanker dan dampak pengobatan, termasuk sejauh mana mereka mengalami efek samping dari pengobatan atau komplikasi dari kanker itu sendiri.
  7. Intervensi medis
    Prosedur medis seperti operasi untuk mengangkat tumor atau bagian dari usus bisa menyebabkan komplikasi seperti perdarahan internal, infeksi, atau gangguan pencernaan.

Karena banyak faktor yang bisa menyebabkan komplikasi, manajemen kanker kolorektal biasanya melibatkan tim medis multidisiplin untuk membantu meminimalkan risiko komplikasi.

Pencegahan kanker kolorektal

Pencegahan terbaik agar terhindar dari kanker kolorektal bisa dilakukan dengan beberapa langkah proaktif berikut ini.

  • Skrining
    Melakukan skrining secara rutin adalah salah satu cara paling efektif untuk mendeteksi kanker kolorektal pada tahap awal atau bahkan mencegahnya. Tes seperti kolonoskopi dapat membantu menemukan polip sebelum mereka berubah menjadi kanker.
  • Diet seimbang
    Mengonsumsi makanan yang kaya akan serat, disertai buah dan sayuran, sambil membatasi asupan daging merah dan daging olahan, bisa membantu menurunkan risiko.
  • Olahraga
    Aktivitas fisik yang rutin dapat memainkan peran dalam mencegah berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal.
  • Berhenti merokok
    Merokok telah terkait dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru, kanker kolorektal, dan kanker lambung.
  • Mempertahankan berat badan ideal
    Obesitas adalah faktor risiko untuk banyak jenis kanker, termasuk kanker kolorektal. Menjaga berat badan dalam kisaran yang sehat bisa membantu mencegah kanker ini.
  • Meminimalkan konsumsi minuman beralkohol
    Konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal. Jika memilih untuk meminumnya, lakukan dengan bijak dan terbatas.
  • Konsultasi medis
    Jika kamu memiliki faktor risiko atau riwayat keluarga dengan kanker ini, bicarakan dengan dokter tentang rencana pencegahan yang lebih spesifik, misalnya melakukan skrining lebih dini atau lebih sering.
  • Manajemen faktor risiko medis
    Bagi seseorang yang memiliki kondisi yang bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal, seperti penyakit radang usus atau polip kolorektal, ikuti rekomendasi medis untuk manajemen dan pemantauan kondisi tersebut.

Pertanyaan terkait kanker kolorektal

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan umum yang diajukan terkait kanker kolorektal.

1. Apakah kanker kolorektal ini bisa diwariskan?

Ya, ada beberapa jenis kanker kolorektal yang memiliki komponen genetik, meskipun kebanyakan kasus kanker kolorektal terjadi pada orang yang tidak memiliki riwayat keluarga yang signifikan terkait penyakit ini. 

2. Bagaimana kualitas hidup setelah menjalani pengobatan kanker kolorektal?

Kualitas hidup setelah menjalani pengobatan kanker kolorektal bisa sangat bervariasi dari satu individu ke individu lainnya, tergantung pada berbagai faktor. 

Sebagian pasien mampu kembali ke kehidupan normal dengan sedikit atau tanpa efek samping jangka panjang, sementara yang lain mungkin mengalami komplikasi atau efek samping yang berdampak kepada kualitas hidupnya.

Isu-isu seperti kelelahan, perubahan fungsi usus, masalah seksual, dan efek emosional seperti depresi atau kecemasan adalah beberapa tantangan yang mungkin dihadapi. 

Untuk alasan ini, perawatan tindak lanjut dan rehabilitasi sering menjadi bagian penting dari perawatan kanker kolorektal. Ini mungkin mencakup berbagai layanan, mulai dari terapi fisik, terapi nutrisi, konseling psikologis, dan lain-lain.

3. Di usia berapa seseorang harus mulai melakukan skrining kanker kolorektal?

Pedoman umum menyarankan untuk memulai skrining pada usia 45 untuk orang yang memiliki risiko rata-rata. Bagi seseorang yang memiliki faktor risiko yang lebih tinggi, seperti riwayat keluarga dengan kanker ini atau kondisi genetik yang meningkatkan risiko, skrining mungkin perlu dimulai lebih awal.

4. Bagaimana stadium kanker kolorektal ditentukan?

Stadium kanker kolorektal biasanya ditentukan melalui proses yang dikenal sebagai proses staging. Staging melibatkan serangkaian tes dan pemeriksaan untuk menilai sejauh mana kanker telah menyebar dalam tubuh. Beberapa tes yang mungkin digunakan dalam proses staging ini termasuk kolonoskopi, CT scan, MRI, dan mungkin juga tes darah.

5. Apakah ada peluang untuk sembuh total dari kanker kolorektal?

Peluang untuk sembuh total dari kanker kolorektal sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk stadium saat didiagnosis, kesehatan umum pasien, efektivitas pengobatan, dan lain-lain. 

Pada stadium awal (I atau II), kanker kolorektal biasanya lebih mudah diobati dan peluang untuk sembuh lebih besar. Pembedahan untuk mengangkat tumor dan jaringan sekitarnya seringkali bisa mengeliminasi kanker sepenuhnya pada tahap ini.

Pada stadium lanjut (III atau IV), kanker biasanya telah menyebar ke organ lain atau memiliki keberlanjutan yang lebih kompleks, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit dan peluang untuk sembuh total berkurang. 

Dalam kasus seperti ini, tujuan pengobatan bisa beralih dari penyembuhan total ke manajemen gejala dan peningkatan kualitas hidup.

6. Apakah ada suplemen yang bisa membantu dalam perawatan?

Ada beberapa studi yang meneliti efek dari suplemen seperti probiotik, kurkumin, vitamin D, atau omega-3 asam lemak dalam konteks mendukung perawatan kanker, tetapi hasilnya belum cukup kuat sebagai rekomendasi klinis.

Penggunaan suplemen untuk membantu perawatan kanker kolorektal diharuskan melalui konsultasi dokter. Efek suplemen dapat berinteraksi dengan obat-obat kemoterapi atau terapi lainnya sehingga berdampak kepada efektivitas atau menyebabkan efek samping tertentu.

7. Dimana saya bisa mendapatkan informasi dan dukungan lebih lanjut?

Untuk mendapatkan informasi dan dukungan lebih lanjut tentang kanker kolorektal, langkah terbaik adalah dengan berkonsultasi langsung dengan dokter di rumah sakit atau klinik spesialis. Kamu juga bisa mendatangi organisasi dan yayasan kanker resmi.

Ada juga opsi untuk mencari tahu melalui literatur medis, jurnal ilmiah, internet, atau media sosial milik lembaga medis resmi. Meski begitu, kamu tetap disarankan untuk meminta bantuan tenaga ahli dalam menginterpretasi materi di dalamnya.

Hindari berkonsultasi dan meminta saran medis dari seseorang atau instansi yang tidak memiliki lisensi medis resmi untuk menghindari terjadinya malapraktik yang bisa merugikan diri sendiri.

Artikel ini hanya bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional, dan tidak boleh diandalkan untuk saran medis tertentu.