fbpx
Jantung & Vaskular Penyakit Kardiovaskular

Apa Itu Hipertensi? Cek Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

apa itu hipertensi
Dr Chua Ad banner 970x250

Pengertian hipertensi

Hipertensi, dikenal juga sebagai darah tinggi, adalah kondisi kesehatan di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara persisten hingga melebihi batas normal.

Penyakit ini dikenal sebagai pembunuh diam-diam karena para pengidap umumnya tidak merasakan gejala yang jelas, namun dapat menyebabkan kerusakan signifikan pada jantung, ginjal, dan otak jika tidak ditangani dengan tepat.

Klasifikasi hipertensi secara singkat dapapt dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan tekanan darah berikut ini.

  • Hipertensi tingkat 1, di mana tekanan darah sistolik berkisar antara 130-139 mmHg atau tekanan darah diastolik antara 80-89 mmHg
  • Hipertensi tingkat 2, di mana tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih tinggi atau tekanan darah diastolik 90 mmHg atau lebih tinggi.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, hipertensi adalah penyakit yang serius karena prevalensinya yang tinggi dan hubungannya dengan risiko penyakit kardiovaskular

Menurut data dari WHO tahun 2019, jumlah kematian akibat penyakit terkait kondisi hipertensi atau darah tinggi di Indonesia mencapai 1.816.000 orang dari seluruh jumlah penduduk sekitar 269.600.000.

Manajemen dan kontrol tekanan darah yang efektif sangat penting untuk mencegah komplikasi yang dapat mengancam jiwa dan mempertahankan kualitas hidup.

Gejala hipertensi

Gejala hipertensi secara umum tidak menunjukkan gejala yang jelas sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa diri mereka mengidapnya. Meski begitu, sebagian orang mungkin sering mengalami sakit kepala ringan atau berat yang kerap diabaikan, padahal ini bisa menjadi ciri-ciri umum hipertensi.

Selain sakit kepala, rasa pusing dan penglihatan kabur juga bisa menjadi tanda dan gejala hipertensi yang harus diperhatikan.

Selain gejala umum, ada beberapa variasi gejala hipertensi yang sebaiknya diperhatikan, antara lain:

  • Gejala serius pada kasus hipertensi yang parah
    Dalam kondisi hipertensi yang lebih serius atau krisis hipertensi, gejala dapat terasa lebih intens dan mendesak. Misalnya, nyeri dada yang tidak biasa, kesulitan bernapas atau sesak napas, dan irama jantung yang tidak teratur. Gejala serius lainnya meliputi perubahan kualitas penglihatan, kebingungan mental, dan pendarahan dari hidung sebagai tanda-tanda darah tinggi yang memerlukan perhatian medis secepatnya.
  • Variasi gejala hipertensi pada tiap individu
    Sebagian besar kasus hipertensi bisa menunjukkan gejala yang sangat bervariasi pada tiap individu. Beberapa orang mungkin mengalami ciri-ciri darah tinggi yang lebih umum, sementara yang lain mungkin tidak merasakan gejala apa pun.
  • Gejala pada hipertensi sekunder
    Dalam kasus hipertensi sekunder, gejala mungkin berkaitan dengan kondisi medis yang menjadi melatarbelakangi. Misalnya, penyakit ginjal dapat menyebabkan gejala khusus yang juga terkait dengan peningkatan tekanan darah.

Sangat penting untuk mencari bantuan medis jika mengalami gejala yang menunjukkan krisis hipertensi atau komplikasi serius.

Gejala yang memerlukan perhatian medis secepatnya bisa meliputi sakit kepala yang tidak tertahankan, gangguan penglihatan, kebingungan, dan sesak napas.

Selanjutnya, pemantauan tekanan darah secara rutin sangatlah penting, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terkena hipertensi. Pemantauan ini bisa membantu dalam upaya deteksi dini dan manajemen hipertensi sebelum berkembang menjadi lebih serius.

Diagnosis hipertensi

Proses diagnosis hipertensi melibatkan beberapa langkah penting yang dilakukan oleh profesional kesehatan. Berikut ini adalah rincian proses diagnosis tersebut.

  • Pemeriksaan tekanan darah awal
    Ini biasanya adalah langkah pertama dalam proses diagnosis hipertensi. Tekanan darah diukur menggunakan manset lengan oleh tenaga kesehatan dan diukur dalam tiap kunjungan klinis. Jika tekanan darah tinggi terdeteksi, biasanya akan dilakukan pengukuran tambahan untuk memastikan keakuratan. Hipertensi didiagnosis jika pembacaan tekanan darah sama dengan atau lebih besar dari 130/80 mm Hg.
  • Klasifikasi tekanan darah
    Secara umum, berikut ini adalah kategori tekanan darah berdasarkan nilai tekanan darah sistolik dan diastolik, mulai dari tekanan darah normal hingga hipertensi dalam tingkatannya yang berbeda.
  1. Tekanan darah normal
    • Sistolik: Kurang dari 120 mmHg
    • Diastolik: Kurang dari 80 mmHg
  2. Tekanan darah tinggi (prahipertensi)
    • Sistolik: 120-129 mmHg
    • Diastolik: Kurang dari 80 mmHg
  3. Hipertensi Tingkat 1 (Ringan). 
    • Sistolik: 130-139 mmHg
    • Diastolik: 80-89 mmHg
  4. Hipertensi Tingkat 2 (Menengah)
    • Sistolik: 140-159 mmHg
    • Diastolik: 90-99 mmHg
  5. Hipertensi Tingkat 3 (Berat)
    • Sistolik: 160 mmHg atau lebih tinggi
    • Diastolik: 100 mmHg atau lebih tinggi
  6. Hipertensi Krisis (Sangat Berat)
    • Sistolik: Lebih dari 180 mmHg
    • Diastolik: Lebih dari 120 mmHg
  • Pengulangan pengukuran
    Dalam banyak kasus, tekanan darah diukur lagi pada kesempatan terpisah untuk memastikan bahwa pembacaan tinggi bukan hasil dari stres sementara atau white coat hypertension. Ini tidak harus dilakukan langsung setelah pengukuran awal dan dapat dijadwalkan pada kunjungan berikutnya.
  • Pengukuran lanjutan sendiri di rumah atau klinik
    Jika tekanan darah masih menunjukkan pembacaan tinggi, pengukuran tekanan darah sendiri di rumah atau klinik mungkin direkomendasikan. Langkah ini membantu mengidentifikasi masked hypertension atau untuk memastikan konsistensi tekanan darah tinggi di luar lingkungan klinis.
  • Tes tambahan
    Tes tambahan seperti tes darah dan urine, EKG, atau pengukuran yang lebih spesifik biasanya dilakukan jika hipertensi telah dikonfirmasi, atau jika ada kecurigaan kerusakan organ atau penyebab sekunder dari hipertensi.
  • Evaluasi keseluruhan
    Keseluruhan proses diagnosis melibatkan evaluasi menyeluruh yang mungkin mencakup pemeriksaan fisik, riwayat medis, dan gaya hidup pasien. Langkah ini bisa berlangsung secara paralel dengan langkah-langkah di atas.

Proses diagnosis ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan individu. Misalnya, pada individu dengan risiko tinggi atau gejala yang mengkhawatirkan, langkah-langkah diagnostik mungkin dilakukan lebih cepat atau secara lebih mendalam. 

Di sisi lain, pada individu dengan risiko rendah dan tanpa gejala, pendekatan yang lebih bertahap mungkin lebih cocok. Pendekatan ini memastikan bahwa diagnosis dibuat dengan akurat dan bahwa setiap keputusan pengobatan didasarkan pada informasi yang paling lengkap dan relevan.

Penyebab dan faktor risiko hipertensi

Penyebab dan faktor risiko hipertensi mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi kesehatan yang mendasarinya hingga pilihan gaya hidup. Berikut ini adalah ringkasan komprehensif terkait hal itu.

Penyebab hipertensi primer dan sekunder

Hipertensi primer atau essential hypertension adalah bentuk paling umum dari hipertensi, di mana tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasi. Faktor-faktor yang berkontribusi termasuk penuaan dan faktor gaya hidup seperti kurang olahraga dan pola makan yang tidak sehat​​.

Ada juga hipertensi sekunder. Hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi kesehatan atau obat-obatan tertentu. Risiko kejadian hipertensi sekunder lebih rendah dibandingkan hipertensi primer dikarenakan dokter lebih berpeluang untuk mengantisipasi komplikasi obat-obatan.

Hipertensi sekunder berisiko terdampak dari penyakit ginjal, kerusakan pada filter kecil di dalam ginjal (glomerulonephritis), penyempitan arteri yang memasok ginjal, penyakit gula darah (diabetes), apnea tidur (sleep apnea), gangguan hormon, lupus, dan skleroderma.

Faktor risiko hipertensi

Istilah “faktor risiko hipertensi” merujuk pada kondisi atau kebiasaan yang meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengembangkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. 

Faktor risiko ini dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu faktor yang dapat dikendalikan dan faktor yang tidak dapat diubah. Berikut adalah beberapa contoh dari masing-masing kategori tersebut.

Faktor risiko yang dapat dikendalikan

  • Kebiasaan hidup yang tidak sehat – Misalnya pola makan tinggi garam, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi minuman keras berlebihan dan konsumsi kafein yang berlebihan, serta merokok.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan – Kelebihan berat badan dapat meningkatkan beban kerja pada jantung dan pembuluh darah sehingga berisiko menyebabkan tekanan darah tinggi.
  • Stres – Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan sementara dalam tekanan darah.

Faktor risiko yang tidak dapat diubah

  • Usia – Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Pria lebih sering mengalami hipertensi hingga usia 64 tahun, sedangkan wanita lebih berisiko setelah usia 65 tahun.
  • Riwayat keluarga: Jika memiliki keluarga dekat dengan riwayat hipertensi, risiko mengembangkan kondisi ini menjadi lebih tinggi.

Lakukan pemeriksaan hipertensi sejak dini

Health365 merekomendasikan pentingnya inisiatif menjalani pemeriksaan tekanan darah sejak dini. Kamu bisa dapatkan paket skrining atau pemeriksaan kesehatan umum terlengkap khusus untuk pria dan wanita.

Tidak cuma skrining kesehatan umum, kamu juga bisa mendapatkan fasilitas skrining kanker lambung dengan GASTROClear™. Awali hidup sehatmu dari sekarang.

Pengobatan hipertensi

Pengobatan hipertensi melibatkan pendekatan yang komprehensif, yaitu menggabungkan pengelolaan farmakologis (obat-obatan) dan perubahan gaya hidup. Berikut adalah beberapa rincian lengkap mengenai cara mengatasi hipertensi.

1. Pengobatan farmakologis (obat-obatan)

Jenis obat yang digunakan untuk mengatasi hipertensi tergantung pada kesehatan keseluruhan dan tingkat keparahan tekanan darah. Umumnya, dua atau lebih obat tekanan darah dinilai lebih efektif daripada satu.

Dokter biasanya merekomendasikan obat-obatan hipertensi berikut.

  • Diuretik : Obat-obatan ini membantu menghilangkan natrium dan air dari tubuh.
  • Inhibitor ACE dan ARB : Keduanya bekerja dengan mengendurkan pembuluh darah dan mencegah kerusakan ginjal.

Dalam pengobatan hipertensi, target atau tujuan pengobatan ditetapkan untuk menurunkan tekanan darah pasien ke tingkat yang lebih aman dan sehat. Dalam hal ini, target tekanan darah yang ideal adalah kurang dari 130/80 mm Hg. Hal ini khusus ditujukan bagi:

  • Orang dewasa di atas 65 tahun : Pada kelompok usia ini, penting untuk menjaga tekanan darah pada tingkat yang lebih rendah untuk mengurangi risiko komplikasi terkait usia.
  • Individu dengan risiko tinggi penyakit kardiovaskular : Jika seseorang memiliki risiko 10% atau lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit kardiovaskular dalam waktu 10 tahun, penting untuk menjaga tekanan darah di bawah 130/80 mm Hg.
  • Pasien dengan kondisi tertentu : Bagi mereka yang telah didiagnosis dengan penyakit ginjal kronis, diabetes, atau penyakit arteri koroner, menjaga tekanan darah di bawah ambang batas ini adalah penting untuk mengelola kondisi mereka dan mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut.

2. Pengelolaan non-farmakologis

Manajemen non-farmakologis meliputi dua langkah utama, yaitu memperbaiki gaya hidup dan pendekatan kesehatan secara terpadu (holistik).

  • Perubahan gaya hidup : Langkah-langkah mengubah gaya hidup bertujuan mendapatkan kualitas kesehatan yang lebih baik. Langkah ini bisa meliputi:
    1. Mengikuti diet sehat dengan rendah garam dan lemak jenuh.
    2. Melakukan aktivitas fisik dan berolahraga secara teratur.
    3. Menjaga berat badan di kisaran yang ideal.
    4. Mengurangi konsumsi minuman keras.
    5. Berhenti merokok.
  • Pendekatan holistik : Pendekatan ini melibatkan kolaborasi antara pasien, tenaga medis, dan penyedia layanan kesehatan lainnya untuk memastikan pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan dari hipertensi​​.

3. Mengatasi hipertensi resisten

Hipertensi resisten adalah kondisi di mana tekanan darah seseorang tetap tinggi dan tidak terkontrol meskipun sudah mengonsumsi tiga jenis obat tekanan darah atau lebih, termasuk diuretik. 

Hal ini berarti bahwa tekanan darah tersebut tidak merespons secara memadai terhadap pengobatan standar yang biasanya dinilai efektif untuk mengendalikan hipertensi.

Dalam mengatasi hipertensi resisten, mungkin diperlukan pendekatan pengobatan yang lebih spesifik dan terperinci. Misalnya, menggunakan kombinasi obat-obatan yang berbeda atau menyesuaikan dosis obat-obatan yang saat ini sedang digunakan.

Tujuannya adalah untuk menemukan kombinasi atau dosis yang tepat yang dapat secara efektif menurunkan dan mengontrol tekanan darah pada tingkat yang aman.

Adakah tanda-tanda hipertensi sudah sembuh?

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, adalah kondisi yang memerlukan manajemen jangka panjang. Tidak ada penyembuhan secara total untuk hipertensi, tetapi kondisi ini dapat dikendalikan secara efektif melalui pengobatan dan perubahan gaya hidup.

Berikut adalah beberapa poin penting tentang manajemen dan kontrol hipertensi.

  1. Pengelolaan jangka panjang
    Pengelolaan hipertensi primer sebagai bentuk penyakit darah tinggi paling umum akan membutuhkan pengelolaan seumur hidup. Hal ini berarti bahwa meskipun tekanan darah dapat dikendalikan dengan efektif, perawatan dan pengawasan rutin tetap diperlukan​​.
  2. Pentingnya pengawasan secara rutin
    Karena hipertensi umumnya tidak menunjukkan gejala yang signifikan, satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang mengidap hipertensi adalah dengan memeriksa tekanan darah secara rutin​​.
    Screening tekanan darah merupakan bagian penting dari perawatan kesehatan umum. Orang dewasa sehat di atas usia 40 tahun disarankan untuk memeriksa tekanan darah mereka setidaknya sekali setiap lima tahun​​.
  3. Perubahan tekanan darah dengan mengganti pengobatan
    Dalam kasus hipertensi sekunder yang mana disebabkan oleh kondisi medis atau penggunaan obat-obatan tertentu, tekanan darah mungkin kembali normal setelah penyebabnya ditangani. Misalnya, jika hipertensi disebabkan oleh konsumsi obat tertentu, maka mengganti obat tersebut mungkin dapat menurunkan tekanan darah​​.
  4. Pengawasan untuk mencegah komplikasi
    Jika tidak diobati, hipertensi dapat menyebabkan kondisi serius seperti penyakit ginjal, penyakit jantung, dan stroke. Oleh karena itu, penting untuk terus memantau dan mengelola tekanan darah tinggi bahkan setelah mencapai kontrol yang baik​​.
  5. Gejala hipertensi yang parah
    Hipertensi yang sangat tinggi (biasanya 180/120 mmHg atau lebih tinggi) dapat menyebabkan gejala yang serius dan memerlukan perawatan medis segera. Gejala ini termasuk sakit kepala berat, nyeri dada, pusing, kesulitan bernapas, penglihatan kabur, dan perubahan ritme jantung​​.

Pencegahan hipertensi

Pencegahan hipertensi melibatkan berbagai strategi gaya hidup untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah hipertensi.

  1. Menerapkan perencanaan makan sehat
    Menekankan pentingnya mengikuti rencana makan sehat seperti diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), yang memfokuskan pada makanan berjenis:
    • Buah-buahan dan sayuran : Meningkatkan asupan buah-buahan dan sayuran segar.
    • Biji-bijian utuh : Memilih biji-bijian utuh daripada biji-bijian olahan.
    • Produk susu rendah lemak : Mengonsumsi susu dan produk susu rendah lemak.
    • Protein tanpa lemak : Memasukkan sumber protein yang lebih sehat, seperti ikan, daging tanpa lemak, dan kacang-kacangan.
    • Mengurangi konsumsi sodium : Membatasi asupan garam dan makanan olahan yang tinggi sodium.
    • Membatasi lemak jenuh dan lemak trans : Hindari konsumsi lemak jenuh dan lemak trans, sebaliknya utamakan lemak sehat seperti minyak zaitun.
  2. Menjaga berat badan sehat
    • Memiliki berat badan yang sehat mengurangi risiko tekanan darah tinggi. Indeks Massa Tubuh (BMI) sering digunakan oleh dokter untuk menentukan apakah berat badan seseorang berada dalam kisaran yang sehat.
    • Mengurangi berat badan jika memiliki kelebihan berat badan atau obesitas dapat membantu menurunkan tekanan darah​​.
  3. Olahraga secara teratur
    Melakukan aktivitas fisik secara teratur, setidaknya 150 menit per minggu (sekitar 30 menit sehari, 5 hari seminggu), dapat membantu menurunkan atau menjaga tekanan darah dalam kisaran yang sehat​​.
  4. Berhenti merokok atau menghindari terpapar asap rokok
    Tidak merokok atau berhenti merokok adalah langkah penting karena merokok dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit jantung​​ dan penyebab kanker paru-paru.
  5. Mengelola stres
    Pengelolaan stres yang efektif melalui teknik relaksasi, meditasi, atau kegiatan rekreasi dapat membantu menjaga tekanan darah dalam kisaran normal​​.
  6. Pola makan yang kaya potasium, serat, dan protein
    Mengonsumsi makanan yang kaya potasium, serat, dan protein, serta rendah dalam sodium dan lemak jenuh, dapat membantu menjaga tekanan darah rendah dan melindungi terhadap penyakit jantung dan stroke​​.

Menerapkan perubahan gaya hidup ini tidak hanya membantu dalam pencegahan hipertensi tetapi juga memiliki manfaat kesehatan secara keseluruhan, termasuk peningkatan kesehatan jantung dan pengurangan risiko penyakit kronis lainnya.

Komplikasi hipertensi

Kondisi tekanan darah tinggi yang tidak tertangani atau dikelola secara tepat berisiko memberikan efek yang buruk atau komplikasi tertentu bagi kesehatan. Berikut ini beberapa komplikasi hipertensi.

  • Serangan jantung atau stroke
    Penyempitan dan pengerasan arteri karena tekanan darah tinggi dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke, serta komplikasi lainnya.
  • Aneurisma
    Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah melemah dan membengkak, membentuk aneurisma. Jika aneurisma pecah, kondisi ini bisa mengancam jiwa.
  • Gagal jantung
    Hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah, menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal, kondisi yang dikenal sebagai hipertrofi ventrikel kiri. Akhirnya, jantung mungkin tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh dan memicu terjadinya gagal jantung.
  • Gangguan ginjal
    Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah di ginjal menyempit atau melemah sehingga memicu terjadinya kerusakan ginjal.
  • Gangguan mata
    Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembuluh darah di mata menebal, menyempit, atau robek​​. 

Pengelolaan hipertensi yang efektif sangat penting untuk mengurangi risiko komplikasi ini. Ini termasuk mengikuti rencana pengobatan yang ditetapkan oleh dokter, mengadopsi perubahan gaya hidup yang sehat, dan pemantauan tekanan darah secara teratur.

Dr Chua Banner Ad 970x90

Artikel ini hanya bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional, dan tidak boleh diandalkan untuk saran medis tertentu.